DaerahLampung

Prokes, Banyak Calon Pengunjung Pantai Mutun Kecewa

PESAWARAN – MADISTA.CO – Banyak calon pengunjung atau wisatawan asal luar daerah ke Pantai Mutun, Kabupaten Pesawan, Lampung kecewa. Mereka gagal masuk destinasi wisata itu lantaran puluhan polisi berseragam dan sebagian mengenakan pakaian preman bersama Satpol PP berjaga-jaga di pintu masuk kawasan untuk mengawal protokol kesehatan (prokes).

Pemandangan tersebut tampak sejak kemarin, di mana pemerintah sudah membuka kembali tempat-tempat pariwisata yang sebelumnya, sejak 31 Desember 2020 hingga 1 Januari 2021 ditutup sementara untuk mencegah kerumunan warga euphoria menyambut pergantian tahun. Tindakan ini diambil untuk memutus dan mencegah penyebaran virus korona (copid-19).

Menurut sejumlah pengunjung, kehadiran mereka justru lebih menakutkan ketimbang memberi pengayoman. Tak terhitung kendaraan luar daerah terutama plat BG dan B ( Palembang dan Jakarta) yang kecewa karena tidak diijinkan masuk.

Wisatawan menyesalkan tindakan aparat kepolisian dan Satpol PP di pintu masuk yang dianggap bertindak over, tidak efektif, dan cenderung diskriminatif, di tempat lain tidak ada larangan tapi di Pantai Mutun berlangsung ketat.

Tidak sedikit wisatawan luar daerah, terutama mereka yang datang dari Palembang, Sumatera Selatan dan Jakarta. Kejadian tersebut terjadi pada 2 Januari 2021 hingga Minggu (3/1/2021) pagi.

“Kito ni jauh-jauh ke sini niat piknik, berlibur. Mereka tu jangan pilih kasih laa…jika dilarang lakukan razia atau pencegatan di perbatasan. Jangan macem nih, sudah jauh-jauh idak pacak masuk pulo,” kata Narmin, asal Palembang.

Lain lagi dengan Toni (38) yang datang bersama keluarga rombongan empat mobil, terpaksa parkir di luar area di bawah pohon Ketapang, ia mengaku disuruh menunggu di luar.

“Kami boleh masuk nanti setelah pukul 12. 00 siang, masih ada razia,” kata Toni menirukan perkataan anggota polisi yang tadi melarangnya masuk sambil melirik arloji di tangannya yang menunjukkan baru pukul 09.00 WIB.

Sumber WartaAlam.com di lokasi tersebut melaporkan banyak mobil plat BG dicegat dan dilarang masuk di portal masuk, polisi juga berjaga-jaga di pos pintu gerbang yang ada di Jalan Raya Way Ratai.

Berdasarkan informasi sesama pengunjung dari luar Lampung itu; kejadian tersebut hanya terjadi di Pantai Mutun.

Kendaraan yang lewat mengarah ke pantai atau tempat wisata lain tidak mengalami razia ketat.

“Kami jadi was-was Bang, saya sangka ada operasi teroris,” ungkap driver Maxim yang baru menurunkan penumpang di Mutun.

Pengamat pariwisata asal Pesawaran yang enggan disebut namanya, menyesalkan tindakan aparat yang dinilai over dan tidak efektif.

Ini soal kemanusiaan, di area wisata itu ratusan kepala menggantungkan hidup keluarganya. Pemerintah dalam rangka pemulihan ekonomi dampak pandemi covid-19 sedang mendongkrak sektor pariwisata yang sebelumnya lumpuh. Tapi tindakan aparat seperti ini justru kontradiksi dengan kebijakan pusat. Tidak produktif, mestinya mereka lebih pada pengetatan protokol kesehatan yang harus dijalankan, ujar mantan ASN di lingkup Pemprov Lampung.

Beberapa pengunjung dari Jakarta menyatakan keheranannya, sepanjang perjalanan Jakarta dan di pelabuhan tidak ada ‘razia’ seketat ini.

Tak ada permintaan menunjukkan hasil rapid tes, tapi di sini pemerintah setempat memberlakukan status lockdown.

Menyikapi tindakan tersebut, banyak pihak minta pejabat berwenang evaluasi pelaksanaan kegiatan di lapangan jangan justru sektor pariwisata Lampung semakin terpuruk dengan prilaku tidak bertanggung jawab. ( Elya)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button