Berita

Presiden RI Berangkatkan Ekspor Komoditas Pertanian dari 17 Pintu

JAKARTA – MADISTA.CO – Presiden RI Joko Widodo memberangkatkan secara serentak ekspor komoditas pertanian dari 17 pintu pelabuhan udara dan laut, di antaranya Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Panjang Lampung.

Data lengkap 17 pintu “Merdeka Ekspor” adalah Pelabuhan Laut Tanjung Priok (Rp435,1 miliar), Bandara Soekarno-Hatta (Rp40,36 miliar), Pelabuhan Laut Tanjung Perak Surabaya (Rp1,3 triliun), Pelabuhan Laut Tanjung Mas Semarang (Rp400,57 miliar), Pelabuhan Pelindo I Cabang Dumai (Rp1 triliun), dan Pelabuhan Laut Dwikora Pontianak (Rp194,31 miliar).

Selanjutnya Pelabuhan Laut Belawan Medan, Pelabuhan Laut Makassar New Port, Pelabuhan Laut Jetty PT KRN Balikpapan, Pelabuhan Laut Panjang Lampung, Pelabuhan Sungai Boom Palembang, dan Pelabuhan Laut Batu Ampar Batam,

Kemudian, Pelabuhan Laut Trikora Banjarmasin, Pelabuhan Laut Talang Duku Jambi, Pelabuhan Laut Kuala Tanjung Asahan, Pelabuhan Laut Teluk Bayur Padang, dan Pelabuhan Laut Bitung Manado.

“Hari ini kita akan melakukan ekspor komoditas pertanian secara serentak dari 17 pintu ekspor melalui pelabuhan udara dan laut sebagai momentum penguatan ekspor komoditas pertanian Indonesia dan menandai kebangkitan ekonomi nasional di tengah pandemi,” kata Presiden RI Jokowi melalui sambungan “video conference” di Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (14/8/2021).

Jokowi menyebutkan sektor pertanian merupakan sektor yang mampu bertahan dari hantaman pandemi.

“Ekspor pertanian tahun 2020 seperti yang disampaikan Pak Menteri Pertanian, mencapai Rp451,8 triliun atau naik 15,79 persen dibanding tahun 2019 Rp390,16 trilun,” ujarnya.

Sementara pada semester pertama 2021 dari Januari-Juni 2021 ekspor produk pertanian mencapai Rp282,86 triliun atau naik 14,05 persen dibanding periode yang sama pada 2020 yaitu Rp202,05 triliun.

“Peningkatan ekspor komoditas pertanian ini berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani juga. Saya dapat angka nilai tukar petani kita terus baik Juni 2020 nilai tukar petani berada di angka 99,6 secara konsisten meningkat hingga Desember 2020 103,25 dan Juni 2021 mencapai 103,59,” katanya.

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah indikator yang mengukur tingkat kesejahteraan petani dengan membandingkan kemampuan produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk konsumsi rumah tangga petani.

NTP lebih besar dari 100, artinya petani mengalami surplus yaitu saat harga produksi naik lebih besar dari kenaikan harga konsumsinya (pendapatan petani naik lebih besar dari pengeluarannya).

“Ini menurut saya sebuah kabar baik yang bisa memicu semangat petani-petani kita untuk tetap produktif di masa pandemi,” katanya.

Berdasarkan data, Presiden menyebut saat ini dari 514 kabupaten/kota di seluruh Indonesia, baru 293 kabupaten/kota yang memiliki sentra komoditas pertanian unggulan ekspor.

Baik itu produk sawit, karet, kopi dan beberapa komoditas lain yang diminati pasar global. Masih banyak komoditas yang potensial dikembangkan sarang burung walet, porang, minyak atsiri yang dalam beberapa tahun terakhir cukup berkembang, bunga melati, tanaman hias, edamame, produk-produk holtikultura lain, kata Jokowi.

Bila produk-produk tersebut betul-betul diberi perhatian khusus dan diekspor dalam bentuk jadi termasuk produk olahan peternakan maka pangsa pasar ekspor Indonesia semakin terbuka.

“Namun kita tidak cukup hanya fokus untuk meningkatkan produksi tapi kita juga harus bisa meningkatkan teknologi pertanian untuk meningkatkan produktivitas, melakukan hilirisasi, untuk meningkatkan nilai tambah,” kata presiden.

Tidak ketinggalan untuk menghitung skala ekonomi dengan klasterisasi.

“Ini penting sekali serta melakukan mekanisasi produk dan promosi produk berbasis digital. Ini harus kami kembangkan agar produk pertanian,” katanya. (nov)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button